Ilmu pengetahuan itu tidak pernah ada batasannya..
tidak hanya di dapat dari sekolah..
tidak hanya di dapat dari buku..
juga bisa di dapat dari pengalaman dan segala hal dalam hidup...

Rabu, 19 Oktober 2011

laporan pratikum kimia (uji korosi besi)

BAB I PENDAHULUAN

A. Dasar teori
Menurut Roberge, Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya, sedangkan menurut Gunaltun, korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya menyerang logam, ada pula definisi lain yang mengatakan bahwa korosi merupakan rusaknya logam karena adanya zat penyebab korosi. Pada dasarnya peristiwa korosi adalah reaksi elektrokimia. Secara alami pada permukaan logam dilapisi oleh suatu lapisan film oksida (FeO.OH). Pasivitas dari lapisan film ini akan rusak karena adanya pengaruh dari lingkungan, misalnya adanya penurunan pH atau alkalinitas dari lingkungan ataupun serangan dari ion-ion klorida. Pada proses korosi terjadi reaksi antara ion-ion dan juga antar elektron Korosi atau perkaratan sangat lazim terjadi pada besi. Besi merupakan logam yang mudah berkarat. Karat besi merupakan zat yang dihasilkan pada peristiwa korosi, yaitu berupa zat padat berwarna coklat kemerahan yang bersifat rapuh serta berpori. Bila dibiarkan, lama kelamaan besi akan habis menjadi karat. Dampak dari peristiwa korosi bersifat sangat merugikan. Contoh nyata adalah keroposnya jembatan, bodi mobil, ataupun berbagai konstruksi dari besi lainnya. Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3 . nH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi berlaku sebagai anode, dinama besi mengalami oksidasi. Fe(s) → Fe2+(aq) + 2e E0 = + 0,44 V Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi yang berlaku sebagai katode, dimana oksigen tereduksi. O2(g) + 2H2O(l) + 4e → 4OH-(aq) E0 = + 0,40 V atau O2(g) + 2H+(aq) + 4e → 2H2O(l) E0 = + 1,23 V Ion besi (II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi (III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, Fe2O3 . nH2¬O, yaitu karat besi. Maka reaksi yang terjadi : Anode : 2Fe(s) → 2Fe2+(aq) + 4e E0 = + 0,44 V Katode : O2(g) + 2H2O(l) + 4e → 4OH-(aq) E0 = + 0,40 V Rx Sel : 2Fe(s) + O2(g) + 2H2O(l) → 2Fe2+(aq) + 4OH-(aq) E0 reaksi = 0,84 V Ion Fe2+ tersebut kemudian mengalami oksidasi lebih lanjut dengan reaksi : 4Fe2+(aq) + O2(g) + (4 + 2n) H2O → 2Fe2O3 . nH2O + 8H+(aq) Mengenai bagian mana dari besi itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak sebagai katode bergantung pada berbagai faktor, misalnya zat pengotor, atau perbedaan rapatan logam itu. Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Dari reaksi terlihat bahwa korosi melibatkan adanya gas oksigen dan air. Karena itu, besi yang disimpan dalam udara yang kering akan lebih awet bila dibandingkan ditempat yang lembab. Korosi pada besi ternyata dipercepat oleh beberapa faktor, seperti tingkat keasaman, kontak dengan elektrolit, kontak dengan pengotor, kontak dengan logam lain yang kurang aktif (logam nikel, timah, tembaga), serta keadaan logam besi itu sendiri (kerapatan atau kasar halusnya permukaan).

Beberapa macam jenis korosi, yaitu :
1) Uniform corrosion; yaitu reaksi kimia dan elektrokimia yang berlangsung untuk seluruh permukaan logam. Dapat diatasi dengan pemilihan logam yang cocok, diberi coating, inhibitor dan lingkungan katoda
2) Galvanic corrosion; yaitu dua macam logam dihubungkan dan terletak dalam larutan yang korosif maka beda potensial yang timbul menyebabkan elektron mengalir antara kedua logam tersebut
3) Crevice corrosion; yaitu korosi yang sering terjadi pada celah-celah suatu permukaan logam yang tertutup rapat dan dalam media yang korosif. Contoh : celah pada mur dan baut
4) Pitting corrosion, yaitu adanya lubang-lubang kecil dan sering terjadi karena setelah lama dipakai
5) Selective Leaching; yaitu adanya larutan logam dalam alloy oleh proses korosi. Contoh : dealuminiumification dan decobaltification
6) Erosion corrosion; yaitu kenaikan laju korosi oleh adanya gerakan relatif antara logam dengan cairan korosif
7) Stress corrosion; yaitu retak-retak yang disebabkan karena adanya gerakan tarik menarik yang terus menerus dalam media yang korosif.

Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya korosi :
a) Air
Air merupakan salah satu faktor penting untuk berlangsungnya proses korosi.
b) Adanya oksigen
Pada peristiwa korosi adanya oksigen mutlak diperlukan.

Faktor yang dapat mempercepat terjadinya korosi :
a) Elektrolit
Elektrolit (asam atau garam) merupakan media yang baik untuk melangsungkan transfer muatan. Hal itu mengakibatkan elektron lebih mudah untuk dapat diikat oleh oksigen di udara. Oleh karena itu, air hujan (asam) dan air laut (garam) merupakan penyebab korosi yang utama.

b) Permukaan logam
Permukaan logam yang tidak rata memudahkan terjadinya kutub-kutub muatan, yang akhirnya akan berperan sebagai anode dan katode. Permukaan logam yang licin dan bersih akan menyebabkan korosi sukar terjadi, sebab sukar terjadi kutub-kutub yang akan bertindak sebagai anode dan katode.
c) Kelembaban udara
Udara yang banyak mengandung uap air (lembap) akan mempercepat berlangsungnya proses korosi.

Selain itu, korosi juga dioengaruhi oleh Letak logam dalam deret potensial electrode, Korosi akan sangat cepat terjadi pada logam yang potensialnya rendah, sedangkan logam yang potensialnya lebih tinggi justru lebih awet.

Cara Mencegah Korosi :
 Dicat
Cat menghindarkan kontak besi dengan udara dan air.

 Melumuri dengan oli atau minyak
Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin oli atau minyak mencegah kontak besi dengan air

 Dibalut dengan plastic
Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan kerancang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak besi udara dan air.



 Tin plating (pelapisan dengan timah)
Biasanya kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang disebut electro plating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Besi yang dilapisi timah tidak mengalami korosi karena tidak adanya kontak dengan oksigen (udara) dan air. Akan tetapi, lapisan timah hanya melindungi besi selama lapisan utuh (tanpa cacat). Apabila lapisan timah ada yang cacat, misalnya tergores, maka timah justru mendorong/mempercepat kolosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi besi lebih negatif daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi timah akan membentuk suatu sel elektrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian timah mendorong korosi besi.

 Galvanisasi (pelapisan dengan zink)
Pipa besi, tiang telepon, badan mobil, dan berbagai barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal itu terjadi karena suatu mekanisme yang disebut perlindungan katode. Oleh karena potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katode. Dengan demikian, besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi.

 Cromium plating (pelapisan dengan kromium)
Besi atau baja juga dapat dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya untuk bemper mobil. Cromium plating juga dilakukan dengan elekrolisis. Sama seperti zink, kromium juga dapat memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak.

 Sacrificial protection (pengorbanan anode)
Magnesium adalah logam yang jauh labih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam magnesium dikontakkan dengan besi maka magnesium itu akan berkarat tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus diganti.

B. Tujuan
Tujuan dari pratikum ini adalah untuk mengetahui, faktor-faktor penyebab terjadinya korosi dan faktor-faktor apa saja yang dapat mempercepat korosi.

BAB II METODOLOGI
A. Alat dan bahan
a) Alat
1. rak tabung reaksi
2. tabung reaksi
3. labu ukur
4. pipet tetes
5. sikat tabung reaksi
6. sumbat plastik

b) bahan
1. paku
2. aquades
3. air yang sudah didihkan
4. minyak tanah / kerosin'
5. larutan NaCl
6. larutan H2SO4

B. Cara kerja
1. Ambil 5 tabung reaksi, kemudian :
a. Tambahkan 5 mL aquades ke dalam tabung 1
b. Tambahkan air yang sudah di didihkan ke dalam tabung 3 hingga hampir penuh.
c. Tambahkan kira-kira 10 mL kerosin atau minyak tanah ke dalam tabung 4.
d. Tambahkan kira-kira 5 mL larutan garam 1 M ke dalam tabung 5.
e. Tambahkan kira-kira 5 mL larutan H2SO4 ke dalam tabung 6.
2. Amplaslah 5 batang paku hingga bersih, lalu masukkan masing-masing satu ke dalam tiap tabung.
3. Tutup tabung 3 dengan sumbat.
4. Simpanlah tabung selama 2 hari, lalu amati apa yang terjadi.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil percobaan
tabung I (aquades)
setelah dua hari paku berkarat dan air berwarna kuning.

tabung II (CaCl2)
tidak dilakukan percobaan

tabung 3 (air yang sudah di didihkan)
paku berkarat dan air berwarna kuning

tabung 4 (minyak tanh)
paku tidak berkarat

tabung 5 (larutan NaCl)
paku berkarat dan air berwarna kuning

tabung 6 (larutan H2SO4)
paku berkarat dan air berwarna kuning

Pembahasan
Tabung 1 (berisi aquades)
Faktor penyebab terjadinya korosi adalah adanya air dan oksigen. Pada tabung 1 yang berisi aquades, terdapat air dan oksigen terlarut, selain itu, keadaan tabung terbuka, sehingga oksigen di udara dapat berikatan dengan aquades, akibatnya keadaan tabung menjadi kaya oksigen (O2), sehingga korosi dapat terjadi pada paku di tabung 1. Pada percobaan, paku di tabung 1 berkarat, dan airnya menjadi bewarna kuning kecoklatan, percobaan ini sesuai dengan teori.
Tabung 2 (berisi Kristal CaCl2)
Percobaan tidak dilakukan, namun berdasarkan teori, korosi atau karat seharusnya tidak terjadi, sebab keadaan pada tabung 2 ini kering, ditambah lagi CaCl2 yang tidak mengandung oksigen dan juga keadaan tabung tertutup sehingga O2 di udara tidak bisa masuk dan ikut bereaksi membentuk karat. Pada tabung 2, tidak ada faktor yang dapat menyebabkan korosi, sehingga korosi atau karat tidak akan terjadi.
Tabung 3 (berisi air yang sudah dididihkan dan tabung ditutup)
Korosi dapat terjadi jika terdapat dua faktor penyebab korosi, yaitu air dan oksigen. Korosi tidak dapat terjadi jika tidak terdapat salah satu dari kedua faktor tersebut. Tabung 3 berisi air yang sudah di didihkan, air yang sudah di didihkan kehilangan oksigen terlarut, dan keadaan tabung di tutup, sehingga oksigen atau O2 dari udara tidak dapat masuk ke tabung, akibatnya keadaan tabung tanpa oksigen atau O2. Dalam tabung ini terdapat air, namun tidak terdapat oksigen, sehingga korosi tidak dapat terjadi. Pada percobaan, paku pada tabung 3 berkarat, dan air berwarna kuning kecoklatan, sehingga percobaan bertentangan dengan teori, faktor yang dapat menyebabkan hal ini antara lain adalah, tidak bersihnya paku saat dibersihkan, pada paku masih terdapat sedikit sisa karat, sisa karat mengandung oksigen, sehingga keadaan tabung 3 yang seharusnya tanpa oksigen, menjadi mengandung oksigen. Selain itu, dapat juga disebabkan oleh keterlambatan dalam menutup tabung 3 saat percobaan, sehingga oksigen di udara sudah berreaksi dengan air yang awalnya telah tidak mengandung oksigen terlarut, dan menjadikan air tersebut mengandung oksigen. Adanya air, ditambah juga terdapatnya oksigen dalam tabung, menjadikan paku pada tabung ini berkarat dan air berwarna kuning kecoklatan.
Tabung 4 (berisi minyak tanah)
Tabung 4 berisi minyak tanah, minyak tanah tidak mengandung oksigen dan tidak dapat berikatan dengan oksigen di udara, sehingga walaupun tabung dibuka, keadaan paku dan sekitar paku dalam tabung bebas dari oksigen. Selain itu, pada tabung ini juga tidak terdapat air sama sekali. Keadaan tanpa oksigen dan air ini tidak memungkinkan terjadinya reaksi perkaratan/korosi, sehingga paku pada tabung 4 seharusnya tidak berkarat. Pada percobaan kami, paku pada tabung 4 tidak berkarat.
Tabung 5 (berisi larutan garam)
Larutan garam mengandung air (H2O), dan keadaan tabung terbuka, sehingga oksigen (O2) di udara dapat masuk ke tabung, dan menyebabkan adanya oksigen terlarut pada larutan NaCl di tabung ini. Adanya oksigen dan air jelas dapat menyebabkan terjadinya korosi pada paku di tabung ini. Larutan NaCl adalah larutan elektrolit, larutan elektrolit adalah salah satu faktor untuk mempercepat reaksi korosi. Pada tabung 5, seharusnya paku berkarat. Pada percobaan, paku berkarat dan air berwarna kecoklatan, sehingga percobaan sesuai dengan teori.

Tabung 6 (berisi larutan H2SO4)
Larutan H2SO4 mengandung air (H2O), dan keadaan tabung terbuka, sehingga oksigen (O2) di udara dapat masuk ke tabung, dan menyebabkan adanya oksigen terlarut pada larutan H2SO4 di tabung ini. Adanya oksigen dan air jelas dapat menyebabkan terjadinya korosi pada paku di tabung ini. Larutan H2SO4 adalah larutan elektrolit, larutan elektrolit adalah salah satu faktor untuk mempercepat reaksi korosi. Pada tabung 6, seharusnya paku berkarat. Pada percobaan, paku berkarat dan air berwarna kecoklatan, sehingga percobaan sesuai dengan teori.
Paku yang ditempatkan pada tabung yang terdapat oksigen dan air mengalami perkaratan, sedangkan paku yang ditempatkan pada tabung yang terdapat oksigen saja atau air saja, atau tidak terdapat oksigen dan air, tidak mengalami perkaratan, hal ini menunjukan, bahwa reaksi perkaratan membutuhkan oksigen dan air, tanpa adanya oksigen dan air, reaksi perkaratan tidak dapat terjadi.
Berdasarkan hasil percobaan kami, paku yang paling berkarat terdapat pada tabung 6 (larutan H2SO4), selanjutnya pada tabung 5 (Larutan NaCl), tabung 1 (aquades), tabung 3 (air yang sudah di didihkan) dan paku pada tabung 4 (minyak tanah) tidak berkarat.
Paku pada tabung 6 paling berkarat karena di tunjang oleh dua faktor penyebab korosi, yakni adanya oksigen dan air, ditambah lagi larutan H2SO4 adalah larutan elektrolit yang dapat mempercepat terjadinya reaksi korosi.
Larutan H2SO4 akan mengalami reaksi elektrolisis ;
Katode : 2H+ (aq) + 2e → H2 (g)
Anode : 2H2O (l) → 4H+ (aq) + O2 + 4e
Reaksi sel : 2H2O (l) → 2H2 (g) + O2
Sehingga tabung ini kaya akan oksigen (O2), yakni berasal dari reaksi elektrolisis larutan H2SO4, oksigen terlarut dalam air dan oksigen dari udara sekitar.
Paku pada tabung 5 juga cukup banyak berkarat, karena juga ditunjang oleh dua faktor, yaitu adanya oksigen dan air. Selain itu, larutan NaCl adalah larutan elektrolit, yang dapat mempercepat reaksi korosi. Yang membedakan tabung 5 dengan tabung 6 adalah kandungan oksigen didalamnya, larutan garam (larutan NaCl) memiliki lebih sedikit oksigen dibandingkan dengan larutan H2SO4.

Larutan garam mengalami reaksi elektrolisis :
Katode : 2H2O (l) + 2e → H2 (g) +2OH¬- (aq)
Anode : 2Cl- (aq) → Cl2 (g) + 2e
Reaksi sel : 2H2O (l) + 2Cl- (aq) → 2OH- (aq) + H2 (g) + Cl2 (g)
Dari reaksi elektrolisis garam dapat terlihat bahwa reaksi itu tidak menghasilkan oksigen, sehingga, oksigen yang terdapat pada tabung ini hanya berasal dari oksigen terlarut dalam air, dan oksigen dari udara sekitar, jelas jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan oksigen pada larutan H¬2SO4.
Lebih sedikitnya kandungan oksigen pada larutan garam mengakibatkan lebih sedikitnya karat yang terjadi pada paku di larutan garam jika dibandingkan dengan karat pada paku di larutan H2SO4.
Paku pada tabung 1 hanya di tunjang oleh dua faktor penyebab korosi, yaitu adanya oksigen dan air, dan tidak ditunjang oleh faktor yang dapat mempercepat reaksi korosi. sehingga karat yang terjadi lebih sedikit dari karat yang terjadi pada tabung 5 dan 6.
Paku pada tabung 3 yang seharusnya tidak berkarat karena hanya mengandung air dan tidak mengandung oksigen, dalam percobaan menghasilkan karat. Karat pada tabung 3 ini terjadi karena di tunjang dua faktor, yaitu adanya oksigen dan air. Yang membedakan dengan tabung 1 adalah banyaknya oksigen dalam tiap tabung. Oksigen pada tabung 1 lebih banyak daripada oksigen pada tabung 3. Oksigen pada tabung 1 berasal dari air dan oksigen yang diikat dari udara, sedangkan pada tabung 3, larutan tidak mengandung oksigen, dan tabung ditutup, sehingga oksigen hanya berasal dari karat yang tertinggal pada paku yang tidak bersih. Tabung 1 yang mengandung lebih banyak oksigen akan menghasilkan lebih banyak karat daripada tabung 3 yang hanya memiliki sedikit oksigen.
Berikut adalah urutan banyaknya karat yang terjadi pada paku, dari yang tidak mengalami karat sama sekali, sampai yang mengalami paling banyak karat :

 Tabung 4/kerosin (tidak berkarat)
 Tabung 3/air yang sudah di didihkan (seharusnya tidak berkarat, namun dalam percobaan mengalami karat)
 Tabung 1/aquades
 Tabung 5/larutan NaCl
 Tabung 6/larutan H2SO4

Korosi adalah peristiwa yang merugikan, karena dapat merusak benda-benda, terutama yang terbuat dari besi. Untuk mengatasi terjadinya korosi, dapat dilakukan berbagai langkah, diantaranya :
 Dicat
Cat menghindarkan kontak besi dengan udara dan air. Sehingga apabila kontak besi dan udara dapt dihindari, maka reaksi perkaratan tidak mungkin terjadi.

 Melumuri dengan oli atau minyak
Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin oli atau minyak mencegah kontak besi dengan air. Penghindaran kontak besi dengan air sama saja artinya dengan menghindarkan dari kontak dengan oksigen pada air, sehingga korosi tidak terjadi. Selain itu, menghindari kontak dengan air juga sama halnya dengan menghindari salah satu faktor penyebab korosi, yaitu kelembapan.

 Dibalut dengan plastic
Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan kerancang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak besi udara dan air. Penghindaran kontak besi dengan air sama saja artinya dengan menghindarkan dari kontak dengan oksigen pada air, sehingga korosi tidak terjadi. Selain itu, menghindari kontak dengan air juga sama halnya dengan menghindari salah satu faktor penyebab korosi, yaitu kelembapan.

 Tin plating (pelapisan dengan timah)
Biasanya kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang disebut electro plating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Besi yang dilapisi timah tidak mengalami korosi karena tidak adanya kontak dengan oksigen (udara) dan air. Akan tetapi, lapisan timah hanya melindungi besi selama lapisan utuh (tanpa cacat). Apabila lapisan timah ada yang cacat, misalnya tergores, maka timah justru mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi besi lebih negatif daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi timah akan membentuk suatu sel elektrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian timah mendorong korosi besi.

 Galvanisasi (pelapisan dengan zink)
Pipa besi, tiang telepon, badan mobil, dan berbagai barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal itu terjadi karena suatu mekanisme yang disebut perlindungan katode. Oleh karena potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katode. Dengan demikian, besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi.

 Cromium plating (pelapisan dengan kromium)
Besi atau baja juga dapat dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya untuk bemper mobil. Cromium plating juga dilakukan dengan elekrolisis. Sama seperti zink, kromium juga dapat memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak.

 Sacrificial protection (pengorbanan anode)
Magnesium adalah logam yang jauh labih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam magnesium dikontakkan dengan besi maka magnesium itu akan berkarat tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus diganti.


BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan
 korosi adalah reaksi elektrokimia yang dapat merusak logam.

 Korosi dipengaruhi oleh letak logam dalam deret potensial elektrode. Semakin kecil petensial electrode, semakin mudah korosi terjadi (logam berkarat), sebaliknya, semakin besar potensial elektrode, semakin sulit korosi terjadi (semakin sulit logam berkarat).

 Faktor-faktor yang menyebabkan korosi adalah :
a) Air dan kelembapan udara
b) Adanya oksigen

 Faktor-faktor yang dapat mempercepat terjadinya korosi :
a) Elektrolit (garam dan asam)
b) Permukaan logam
 Adapun cara mengatasi korosi adalah :
a) Sacrificial protection (pengorbanan anode)
b) Cromium plating (pelapisan dengan kromium)
c) Galvanisasi (pelapisan dengan zink)
d) Tin plating (pelapisan dengan timah)
e) Dibalut dengan plastic
f) Melumuri dengan oli atau minyak
g) Dicat

B. saran
Dalam menggunakan benda-benda yang terbuat dari logam, sebaiknya dilakukan penjagaan agar benda-benda tidak mudah berkarat, karena karatan dapat menyebabkan kerusakan pada benda tersebut, langkah yang dapat di ambil antara lain, menyimpan benda yang terbuat dari logam di tempat-tempat yang kering (tidak lembab), juga tidak menyimpannya pada tempat dengan suhu udara yang rendah, sebab suhu rendah dapat menciptakan udara yang lembab.
Selain itu, dalam melakukan percobaan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab dan faktor-faktor yang mempercepat korosi, sebaiknya dilakukan dengan sangat teliti, di antaranya membersihkan paku hingga benar-benar bersih, dan pada tabung tertentu yang tidak boleh mengandung oksigen, sebaiknya melakukan penutupan tabung secepat mungkin, agar kondisi tabung menjadi tanpa oksigen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar